Ukara.id, Pandeglang – Langit Pandeglang masih menyisakan mendung tipis ketika satu per satu koper besar berjejer di halaman Pendopo, Minggu pagi (17/5/2026).
Di antara pelukan keluarga, lambaian tangan yang gemetar, dan mata yang berulang kali menyeka air mata, sebanyak 173 jemaah haji kloter 23 resmi diberangkatkan menuju Tanah Suci.
Mereka menjadi rombongan terakhir dari total 952 jemaah haji asal Kabupaten Pandeglang yang tahun ini mendapat kesempatan menunaikan rukun Islam kelima.
Suasana pelepasan bukan sekadar seremoni tahunan. Ada haru yang sulit dijelaskan. Seorang ibu lanjut usia tampak memegang erat tangan anaknya sebelum menaiki bus. Di sudut lain, keluarga sibuk mengabadikan foto terakhir sebelum keberangkatan, seolah ingin menyimpan momen yang belum tentu terulang dua kali dalam hidup.
Bagi sebagian warga Pandeglang, perjalanan haji bukan perkara sederhana. Ada yang menabung belasan hingga puluhan tahun, menjual hasil kebun sedikit demi sedikit, menyisihkan uang dari berdagang di pasar, bahkan menunggu antrean sejak anak-anak mereka masih kecil.
Bupati Pandeglang, Raden Dewi Setiani, yang melepas langsung keberangkatan jemaah dari Pendopo menuju Asrama Haji Cipondoh, mengingatkan bahwa kesempatan menuju Tanah Suci tidak dimiliki semua orang.
“Tidak semua orang mendapatkan kesempatan berangkat ke Tanah Suci. Manfaatkan waktu di Tanah Suci untuk beribadah dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Dalam dua pekan terakhir, Pemerintah Kabupaten Pandeglang telah memberangkatkan tiga kelompok terbang, yakni kloter 13 sebanyak 388 jemaah, kloter 17 sebanyak 391 jemaah, dan kloter 23 sebanyak 173 jemaah.
Di antara ratusan jemaah itu, tersimpan pula kisah lintas generasi. Kloter 23 mencatat jemaah termuda bernama Lubnan Mahbuby Raja Erlangga (16), warga Kampung Daya Makmur, Desa Kalanganyar, Kecamatan Labuan. Di usia ketika banyak remaja masih sibuk dengan sekolah dan permainan gawai, Lubnan justru bersiap menempuh perjalanan spiritual ribuan kilometer jauhnya.
Sementara itu, jemaah tertua adalah Enah Husaenah (88), warga Kampung Siruang, Desa Caringin, Kecamatan Labuan. Tubuh renta perempuan lansia itu seakan menjadi penanda bahwa panggilan haji kadang datang setelah penantian yang sangat panjang.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pandeglang, Supardi, menyebut seluruh proses pemberangkatan berjalan sesuai jadwal. Dari total 173 jemaah pada kloter 23, terdiri atas 80 laki-laki, 90 perempuan, dan dua petugas haji.
“Alhamdulillah seluruh jemaah haji asal Pandeglang tahun ini telah diberangkatkan sesuai jadwal,” katanya.
Di balik angka 952 jemaah itu, sesungguhnya ada ratusan cerita tentang doa-doa yang disimpan lama. Tentang orang tua yang akhirnya berangkat setelah anak-anaknya mandiri. Tentang pasangan lansia yang berjalan perlahan sambil menggenggam tas kecil berisi obat-obatan. Juga tentang keluarga yang mengantar dengan senyum, meski diam-diam menyimpan cemas.
Bus-bus itu akhirnya meninggalkan Pendopo. Perlahan, lambaian tangan mengecil di kejauhan. Namun bagi keluarga yang ditinggalkan, perjalanan menuju Makkah bukan hanya perjalanan para jemaah—melainkan perjalanan harapan yang ikut dipanjatkan dari rumah-rumah sederhana di Pandeglang.





